Menyayangi Alam, Menangkal Bencana
Jumat, 16 Juni 2006
Menyayangi alam selain baik secara moral juga diperintahkan oleh agama (Islam). Dalam Kitab Suci terdapat berpuluh-puluh ayat yang memerintahkan agar memperhatikan fenomena alam, memakmurkan dan melestarikannya. Manusia yang bertindak sebagai “pengendali alam” memiliki konstibusi besar, baik bagi kelestarian maupun kehancuran alam (lingkungan hidup).
Oleh karena itu, bencana alam bukan hanya sebagai fenomena alamiah, tetapi akibat kegiatan manusia dalam mengelolanya. Alam dan apa-apa yang terkandung di dalamnya harus kita pelihara dengan baik sehingga terhindar dari bencana. Jika kita terus menerus mengeruk kekayaan alam tanpa upaya menjaga kelestarian sehingga hilang keseimbangannya, maka alam pun akan rusak.
Dalam beberapa tahun terakhir, bangsa kita tidak hanya didera oleh persoalan krisis ekonomi yang hingga kini belum pulih, tetapi diterpa beragam bencana alam yang terjadi di luar dugaan. Ratusan ribu korban jiwa dan triliunan rupiah harta benda akibat Gempa dan Tsunami di Aceh dan sekitarnya, kematian warga dan ikan di laut akibat pencemaran lingkungan di Teluk Buyat, ribuan jiwa melayang dan harta benda tertimbun akibat banjir di Trenggalek, serta lebih dari lima ribu jiwa melayang dan ribuan unit rumah roboh akibat gempa di Yogyakarta dan Jawa Tengah, adalah sederet bencana alam yang beberapa di Tanah Air. Semua bencana itu terkadang hanya dipandang sebagai gejala alam, padahal manusia-manusia “serakah” memberikan kontribusi terhadap tragedi tersebut.
Selain bencana yang secara kasat mata alamiah, kita secara sadar atau tidak, membuat “bencana alam” yang mengakibatkan “bencana sosial”. Penebangan liar (illegal logging), pencurian ikan (illegal fishing), dan penambangan liar (illegal mining), adalah beberapa fakta keserakahan manusia dalam “memperkosa alam” secara membabi buta. Mereka tidak hanya melanggar hukum positif negara karena merampok kekayaan yang dikuasai negara, tetapi juga merusak lingkungan: alam menjadi tidak seimbang karena unsur-unsurnya telah rusak.
Ulah Manusia
Segala akibat sifat serakah manusia tengah kita rasakan saat ini. Hutan-hutan dibakar dan ditebang secara liar hingga menyebabkan hutan gundul yang gilirannya mudah erosi dan kekeringan. Begitu pula penambangan emas, tembaga, minyak bumi yang tidak teratur menyebabkan lingkungan rusak, penduduk setempat kelaparan, dan keuntungan hanya dinikmati oleh para investor. Kerusakan alam sekitar yang menyebabkan “bencana sosial”, semuanya merupakan akumulasi dari “ulah” manusia-manusia serakah. Allah Swt. berfirman, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia sehingga akibatnya Allah mencicipkan kepada mereka sebagian dari perbuatan mereka, agar mereka kembali,” (QS ar-Rum [30]: 41).
Mereka yang membuat kerusakan alam tiada lain adalah pencuri-pencuri tingkat tinggi yang mendapat “legitimasi” dari aparat pemerintahan. Dalam Tafsir al-Misbah (Vol. 11, 2005) M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa terjadinya kerusakan merupakan akibat dari dosa dan pelanggar yang dilakukan oleh manusia sehingga mengakibatkan gangguan keseimbangan di darat dan di laut. Sebaliknya, ketiadaan keseimbangan itu, mengakibatkan siksaan kepada manusia. Semakin banyak perusakan terhadap lingkungan, semakin besar pula dampak buruknya terhadap manusia. Semakin banyak dan beraneka ragam dosa manusia, semakin parah pula kerusakan lingkungan. Bila terjadi gangguan pada keharmonisan dan keseimbangan alam, maka kerusakan terjadi, dan ini kecil atau besar, pasti berdampak pada seluruh bagian alam, termasuk manusia, baik yang merusak maupun yang merestui kerusakan itu.
Kekayaan alam yang melimpah, baik di darat maupun di laut, tidak menjadi jaminan bahwa penduduk setempat akan hidup sejahtera. Banyak fakta di negeri kita bahwa daerah kaya sumber daya alam (SDA) tidak membuat warganya makmur. Rakyat Aceh misalnya, kehidupan mereka sangat memilukan. Mereka ibarat “ayam mati di lumbung padi”. Sangat tidak masuk akal, Aceh kaya raya dengan SDA, tapi penduduknya miskin. Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS), 40,39% rakyat Aceh berada dalam garis kemiskinan di tahun 2003 dan di tahun 2005 meningkat menjadi 44.60% (Kompas, 2 Maret 2006).
Kemiskinan akibat “pemiskinan” karena sistem pengelolaan yang tidak akuntabel dan distribusi yang tidak merata merupakan fakta yang tak dapat dibantah. Keserakahan para elit politik dan elit pengusaha yang berebut lahan mengeksploitasi, namun rakyat melarat, mengindikasikan bahwa pola pengelolaan alam ini tidak “berkah” dan lama kelamaan alam pun akan hancur.
Belajar dari Bangsa Saba
Bangsa Saba adalah satu dari sekian banyak bangsa-bangsa terdahulu yang diabadikan di dalam Al-Quran. Bangsa ini negerinya subur makmur, namun manusianya serakah dan durhaka kepada Tuhan. Allah berfirman, “Sesungguhnya bagi kaum Saba ada tanda di tempat kediaman mereka yaitu dua kebun di kanan dan di kiri. ‘Makanlah dari rezeki Tuhan kamu dan bersyukurlah kepada-Nya, negeri yang baik dan Tuhan yang Maha pengampun,” (QS Saba [34]: 15).
Bangsa Saba yang semula subur makmur, kemudian hancur luluh lantak, karena manusia-manusia durhaka. “Lalu mereka berpaling, maka kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pepohonan) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. Demikianlah Kami memberi mereka balasan karena kekafiran mereka, dan Kami tidak membalas melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir,” (QS Saba [34]: 16-17).
Berpalingnya bangsa Saba kepada Tuhan menyebabkan Tuhan mencabut segala nikmat yang sedang mereka nikmati. Ini menunjukkan bahwa kedurhakaan dan keserakahan manusia menyebabkan hilangnya berkah dari Tuhan dan kekayaan alam yang semula menyejahterakan menjadi malapetaka. Bencana yang terjadi tidak hanya dirasakan oleh mereka yang “serakah” tetapi juga masyarakat secara keseluruhan.
Istilah “baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur” yang dulu disematkan kepada bangsa Saba, kini menjadi bahasa populer di kalangan elit yang mendambakan negerinya “gemah ripah loh jiwani” (adil dan makmur). Lagu Koes Ploes yang berjudul “Kolam Susu”, menggambarkan betapa suburnya negeri ini: tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Hijaunya negeri ini membuat wisatawan asal Afrika dan jazirah Arabia terperangah takjub dan menyebutnya sebagai kepingan surga di dunia. Laut pun terbentang luas dengan setumpuk kekayaan ada di perutnya, dan kita bangga menyebut nenek moyang kita sebagai seorang pelaut.
Namun ungkapan itu hanya sebatas harapan, realisasinya sulit. Cita-cita itu diiringi dengan tindakan nyata mengelola alam secara akuntabel dan hasil didistribusikan dengan adil. Justru yang terjadi sebaliknya, eksploitasi alam untuk kepentingan pribadi dan kroni-kroninya. Sadar atau tidak, “bencana alam” dan “bencana sosial” yang tengah kita rasakan saat ini merupakan “balasan” dari kedurhakaan dan keserakahan “manusia-manusia” Indonesia. Mereka tidak bersyukur atas karunia dan limpahan kekayaan alam di Bumi Pertiwi. Mereka tidak bisa mengelola dan melestarikan dengan adil.
Perintah Al-Quran agar kita belajar dari bangsa-bangsa terdahulu tentang sebab-sebab kehancuran negeri-negeri mereka perlu mendapat perhatian serius. Allah berfirman, “Katakanlah, ‘berjalanlah di muka bumi lalu perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah),’” (QS Ar-Rum [30]: 42).
Ayat tersebut menegaskan bahwa penyebab hancurnya bangsa-bangsa terhadulu adalah “kemusyrikan”. Kemusyrikan dalam pengertian luas tidak hanya “menyekutukan Allah”, tetapi memperturutkan hawa nafsu yang menyebabkan tindakan manusia menjadi serakah dan zalim satu sama lain. Keserakahan dan kezaliman itulah yang mengakibatkan”alam murka” sehingga bencana terjadi di mana-mana. Sebaliknya, bencana akan terhindar jika kita “menyayangi alam” dengan mengelola dan menjaga kelestariannya.(CMM/Ian)
BENCANA IKLIM DAN
MUSIM
Katakanlah: "Siapakah yang dapat melindungi kamu dari Allah jika Dia menghendaki bencanan atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?"
QS. Al Ahzab (33) : 17
Ya, musim dan iklim telah mengalami kekacauan. Ini tidak bisa tidak, disebabkan oleh terjadinya pergeseran mekanisme keseimbangan di permukaan Bumi. Penyebabnya adalah aktifitas manusia sendiri. Kerusakan lapisan ozon, meningkatnya gas-gas rumah kaca, kerusakan hutan dan menipisnya jumlah pepohonan, telah mengacaukan mekanisme sempurna
itu.
QS. Ar Ruum (30) : 41
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
Padahal, dengan mekanisme musim itulah Allah memberikan berbagai rahmat kepada manusia. Di antaranya adalah munculnya berbagai jenis buah-buahan, sayuran, perkembangbiakan segala macam jenis binatang di darat maupun di lautan. Dengan iklim dan musim itu juga Allah memberikan suasana yang indah
dan nikmat dalam kehidupan manusia.
Musim hujan yang sejuk, musim kemarau yang panas, musim semi yang indah berwarna-warni, musim panas yang bertaburan cahaya matahari, musim rontok yang meranggas, dan musim dingin yang eksotik. Semuanya itu memberikan nuansa kehidupan yang dinamis penuh keindahan. Enak dipandang mata.
QS. Qaaf (50) : 7
Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata
Bagi kalangan petani, nelayan, dan pekerja yang dekat dengan alam, pergerakan musim telah memberikan gerak kehidupan yang penuh dengan harapan. Mereka bercocok tanam dan melaut di waktu-waktu tertentu. Dan menikmati hasilnya di waktu-waktu yang lain.
Semuanya berjalan secara alami dan teratur seiring dengan perputaran Bumi sepanjang tahun. Seorang petani mengatakan: "Dulu iklim dan musim berjalan secara teratur. Sehingga memudahkan kami untuk bercocok tanam dan berkebun. Kini semuanya jadi serba sulit dan tidak bisa diduga," paparnya.
Ia menjelaskan, di kalangan petani
Jawa ada yang disebut sebagai Pranoto Mongso. lni adalah patokan para petani ketika menjalankan pekerjaannya. Mereka tahu persis, kapan harus memulai menanam bibit padi. Kapan menuai. Kapan menggantinya dengan tanaman palawija. Kapan dan bagaimana memberantas hama secara alamiah. Dan seterusnya.
Tapi semua itu kini telah kacau. Manusia lebih mengandalkan teknologi, zat-zat kimiawi, dan pemaksaan-pemaksaan atas kondisi alam. Yang terjadi bukan produktifitas yang meningkat. Melainkan semakin kacaunya proses produksi pertanian. Hama lebih sulit dikendalikan. Unsur-unsur hara di dalam tanah mengalami kerusakan. Dan yang paling merepotkan, iklim dan musim kini semakin sulit diprediksi.
Hujan salah musim. Volume air yang turun jauh melebihi biasanya. Banyak lahan-lahan gundul yang memicu terjadinya tanah longsor. Lapisan subur permukaan tanah pun mengelupas, sehingga semakin banyak daerah kritis dan tandus. Maka, Indonesia yang demikian subur dan luas ini pun terpaksa harus mengimpor beras, gula, sayuran dan berbagai macam buah-buahan dari negara-negara tetangga yang lebih kecil ... !!?
Sebenarnya, Bumi kita ini telah memiliki mekanisme sempurna untuk mengendalikan musim dan iklim. Rezeki yang disediakan Allah di muka Bumi untuk kehidupan manusia ini tidak akan habis sampai tujuh turunan. Asal saja manusia tidak serakah. Mementingkan diri sendiri.
QS. Al
Baqoroh (2) : 22
Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui
QS. An Nahl (16) : 11
Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang
memikirkan.
QS. An Nahl (16) : 14
Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu) agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karuniaNya, dan supaya kamu bersyukur.
QS. Al An'aam (6) : 142
Dan di antara
binatang ternak itu ada yang dijadikan untuk pengangkutan dan ada yang untuk disembelih. Makanlah dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.
Jadi, mekanisme alam sudahlah sangat jelas. Ada sebuah keseimbangan yang mengatur iklim, cuaca, dan musim agar bermanfaat dan mengenakkan kehidupan manusia.
Tapi akibat perbuatan kita sendiri mekanisme yang memberi nikmat itu kini berubah menjadi bencana yang setiap saat mengincar kita.
Mekanisme air bersih mengalami gangguan yang sangat serius. Sehingga, kalau abad lalu manusia bertengkar karena berebut minyak dan sumber energi lainnya, maka diperkirakan abad ini manusia akan banyak bertengkar untuk berebut air bersih. Air bersih menjadi kebutuhan yang sangat langka. Buka hanya karena jumlahnya yang semakin sedikit, namun kualitas air yang ada pun telah tercemar oleh berbagai macam polusi bahan-bahan kimia yang berbahaya. Baik karena limbah industri, transportasi, maupun dampak kehidupan sehari-hari lainnya.
Selain langka air, udara bersih juga semakin sulit. Udara perkotaan penuh polusi. Sedangkan jumlah pepohonan dan hutan semakin menyusut seiring dengan bertambahnya penduduk Bumi.Bayangkan, jumlah manusia di muka planet Bumi sekarang telah mencapai angka 6 miliar. Padahal seabad sebelumnya baru
sekitar 1,5 miliar. Hanya dalam kurun waktu 100 tahun penduduk Bumi telah meningkat 4 kali lipat. Betapa berat beban planet Bumi.
Secara drastis Bumi harus menyediakan dalam waktu yang bersamaan: bahan pangan, air bersih, udara segar, sumber energi, dan berbagai kebutuhan pokok kehidupan lainnya, empat kali lipat dari biasanya. Padahal, dalam waktu yang sama manusia telah merontokkan sendi-sendi keseimbangan bumi itu sendiri, dengan cara merusak ekosistemnya secara brutal.
Bumi mulai limbung. Setidak-tidaknya mulai terlihat pada rusaknya iklim, cuaca dan musim. Di beberapa negara Utara - Eropa dan Amerika -, dikabarkan sedang diserang cuaca panas yang menyengat. Dan ratusan
orang meninggal dunia.
Bencana iklim dan musim kini semakin sering menerpa kehidupan manusia. Barangkali karena kita semakin jauh dari alam. Tidak bersahabat dengan alam. Padahal alam setiap saat memberikan milik terbaiknya untuk kebahagiaan manusia.
QS. Al Ahqaf (46) : 24
Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: "Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami". (Bukan)! bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung
azab yang pedih,
BENCANA ANGIN
Katakanlah: "Siapakah yang dapat melindungi kamu dari Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?"
QS. Al Ahzab (33) : 17
Bencana lain yang selalu mengintai manusia di Bumi adalah angin. Sebenarnya angin sangat bermanfaat untuk berbagai keperluan manusia. Akan tetapi, ia bisa juga menjadi musuh yang sangat
menakutkan, karena bisa menghancurkan kota dan permukiman. Hal itu telah terjadi di berbagai wilayah permukaan Bumi dan memakan korban yang tidak sedikit. Nyawa maupun harta.
Angin terbentuk karena adanya perbedaan suhu dan tekanan di berbagai wilayah permukaan Bumi. Sebenarnya ini sangat bermanfaat buat manusia. Di antaranya adalah untuk mendistribusikan suhu antara wilayah kutub dan daerah sepanjang katulistiwa. Ada perbedaan suhu sekitar 100° celsius di antara kedua wilayah itu, disebabkan pemanasan matahari sepanjang tahun.
Sebagaimana kita ketahui musim panas dan dingin berganti-ganti antara wilayah selatan dan utara. Ini dikarenakan kemiringan posisi Bumi terhadap
matahari. Perbedaan suhu itu menimbulkan tekanan yang berbeda antara wilayah-wilayah tersebut. Dengan adanya angin, suhu atmosfer Bumi selalu dalam keadaan seimbang dan hangat, sesuai untuk berlangsungnya kehidupan. Jika tidak, akan menjadi
masalah, yaitu terjadi penumpukan panas di daerah-daerah tertentu, dan lainnya akan bertambah dingin dari waktu ke waktu.
QS. Al Jaatsiyah (45) : 5
dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkanNya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan
pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda bagi kaum yang berakal.
QS. Al Baqoroh (2) : 164
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda bagi kaum yang memikirkan.
Perlu diketahui, perbedaan suhu 100° derajat antara kutub dengan katulistiwa itu sebenarnya bisa menyebabkan munculnya angin berkecepatan tinggi, sampai 1000 km per jam. Dan, pasti akan menimbulkan masalah besar buat manusia.
Akan tetapi kenapa tidak? Ternyata Allah mengendalikan agar tidak terjadi angin badai terus menerus. Caranya Allah menciptakan gunung-gunung dan lembah, sehingga angin menjadi terhalang dari pergerakan bebasnya. Bergerak lebih lambat mengikuti lekuk permukaan Bumi. Seandainya permukaan Bumi ini datar, bisa dipastikan manusia akan mengalami masalah besar disebabkan kecepatan angin yang demikian tinggi.
Ditambah lagi adanya perbedaan kondisi antara
permukaan daratan dan lautan. Daerah di atas lautan lebih cepat mengalami perubahan suhu disebabkan oleh pantulan sinar matahari dari permukaan laut. Ketika siang hari, udara di atas lautan lebih cepat panas, sehingga angin akan bergerak ke daratan. Sebaliknya, pada malam hari udara di atas lautan lebih cepat dingin, sehingga angin bergerak dari daratan ke lautan.
Begitulah Allah nnengatur pergerakan angin, di antaranya, sangat bermanfaat untuk para nelayan yang ingin melaut dengan perahu layarnya. Malam hari mereka berangkat mencari ikan, dan esok harinya mereka pulang. Betapa besar nikmat Allah kepada manusia.
QS. Ar Ruum (30) : 46
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah bahwa Dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira dan untuk merasakan kepadamu sebagian dari rahmat-Nya dan supaya kapal dapat berlayar dengan perintahNya dan supaya kamu dapat mencari karuniaNya, semoga kamu bersyukur.
Dengan pergerakan angin yang demikian itulah Allah memberikan rezeki kepada para nelayan. Dan kemudian ikannya bisa kita nikmati, meskipun kita tidak mencarinya langsung dari lautan. Mudah-mudahan manusia bersyukur, begitu firman-Nya.
Sayangnya tidak banyak yang mau bersyukur. Sehingga Allah
mengingatkan kepada kita agar tidak lupa atas perlindunganNya saat kita kritis di lautan lepas. Angin yang tadinya jinak, lembut dan membawa rezeki itu bisa saja lantas berubah menjadi ganas dan mengancam keselamatan kita. Menjadi angin topan bagi mereka yang tak pandai bersyukur atas segala nikmat yang diberikan.
QS.Al Israa' (17) : 69
atau apakah kamu merasa aman dari dikembalikanNya kamu ke laut sekali lagi, lalu Dia meniupkan atas kamu angin topan dan ditenggelamkan-Nya kamu disebabkan kekafiranmu. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun dalam hal ini terhadap Kami.
Di ayat yang lain, Allah juga bercerita bahwa angin itu sangat bermanfaat buat tumbuh-tumbuhan. Agar terjadi perkembangbiakan. Dan akhirnya untuk mencukupi kebutuhan manusia yang juga terus berkembang biak.
QS. Al Hijr (15) : 22
Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukan kamu yang menyimpannya.
Namun bagi mereka yang tidak pandai bersyukur, angin pun
bisa menjadi bencana bagi para petani. Atau bahkan bagi kita semua. Tanaman pangan yang kita harap-harapkan untuk dipanen pun hancur musnah diterpa bencana.
QS. Ar Ruum (30) : 51
Dan sungguh, jika Kami mengirimkan angin lalu mereka melihat (tumbuh-tumbuhan itu) menjadi kuning (kering), benar-benar tetaplah mereka sesudah itu menjadi orang yang ingkar.
QS. Fush Shilat (41) : 16
Maka
Kami meniupkan angin yang amat gemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang sial, karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia. Dan sesungguhnya siksaan akhirat lebih menghinakan sedang mereka tidak diberi pertolongan.
Jadi, kehidupan di Bumi ini memang butuh angin. Akan tetapi sekali waktu akan diporakporandakan oleh angin juga. Ada angin badai, angin topan, puting beliung, angin panas dan dingin, angin berdebu dan berbatu, dan berbagai macam angin lainnya. Bumi senantiasa diincar oleh bencana angin.
Prinsip dasar semua itu adalah keseimbangan alamiah di permukaan Bumi. Jika karena sesuatu hal tekanan udara di suatu wilayah
jauh lebih tinggi dari wilayah di sekitarnya, maka bakal muncul angin yang kekuatannya seiring dengan besarnya perbedaan suhu dan tekanan di wilayah itu.
Jadi, ada beberapa faktor yang harus kita hindarkan, agar kita tidak sampai merusak keseimbangan mekanisme alamiah itu. Misalnya, jangan sampai kita berbuat kerusakan yang akan menjadi penyebab naiknya suhu atmosfer bumi. Seperti meningkatnya polusi dan gas-gas rumah kaca. Atau penggundulan hutan, merusak lapisan ozon, dan lain sebagainya.Kenaikan suhu global itu akan menyebabkan perubahan tekanan udara, kecepatan angin, mekanisme hujan, dan proses-proses tertentu yang merusak keseimbangan. Akhirnya, kita sendiri yang bakal menuai akibatnya..
Pada dasarnya, Bali Roadmap ialah langkah-langkah yang didalamnya tercakup kesepakatan aksi adaptasi, jalan pengurangan emisi gas rumah kaca, dan transfer teknologi dan keuangan yang meliputi adaptasi dan mitigasi.
Cagar alam adalah suatu kawasan suaka alam karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa, dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami.
Selasa, 28 Oktober 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar